Kamis, 28 Juli 2016
Selasa, 03 Mei 2016
Selasa, 08 Maret 2016
Kenapa (sempat) berhenti menulis?
Ini adalah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh beberapa teman dalam beberapa situs social media, ketika saya memulai mencoba aktif lagi.
dan ironisnya, saya juga bingung bagaimana menjawabnya.
Seolah mengkambing hitamkan kesibukan dalam pekerjaan, saya berusaha mencari pembenaran dari alasan-alasan yang saya hadirkan.
Begitupun pula dengan hidup, kadang kita terlalu sering memberikan alasan-alasan yang membuat untuk membenarkan tindakan kita, padahal jika kita pahami, alasan-alasan tersebut tidak akan membuat kita untuk lebih baik lagi. Alasan-alasan tersebut mungkin akan menyelamatkan kita tapi tidak untuk menenangkan.
Kembali lagi pada kalimat pertama, lebih dalam lagi, tulisan bagi saya adalah media, untuk rasa-rasa yang tak tersampaikan yang kadang memang sulit saya ungkapkan.
Dan itu membantu menemukan diri saya sendiri, maka ketika saya berhenti melakukannya, sayapun merasa kehilangan diri sendiri juga.
Jadi, masih ingin berhenti menulis? *self talk*
Selasa, 01 Desember 2015
Kamis, 16 April 2015
Kamis, 05 Maret 2015
Jumat, 23 Januari 2015
Tuhan... apakah aku menyebut nama orang yang salah?
Tuhan... Apakah aku menyebut nama orang yang salah?
Dalam setiap lima waktu,
usai dzikir tengadahkan tangan penuh pengharapan, maupun kala isak tangisku membuncah?
Apakah aku keliru?
Ataukah aku terlalu pengecut tak bisa menerima kekalahan?
Tak juga kutemukan jawaban, karena barangkali yang kubutuh hanya mengikhlaskan.
Ketika rencanaku tak berjalan sesuai apa yang Kau inginkan.
Jakarta, 28 Oktober 2014
Selasa, 13 Januari 2015
Pada perjamuan patah hati ketika dia lelap bergumul dengan kegelisahan
Barangkali seperti daun-daun berguguran yang saling merelakan
Luka ini hanya sedang bermetamorfosa, sayang...
Karena kelak akan kita rengkuh bahagia dengan tenang
Dengan sebenar-benarnya hadiah dari Tuhan....
Minggu, 28 Desember 2014
Kepadamu, Lelaki Dalam Jarak 689 km Dari Jangkauan Saya :
Aku suka berbicara denganmu, bukan karena suaramu merdu, tapi karena ada ceria yang kau bingkiskan dari partikel magnetik lewat suara dalam telepon selulerku.
Aku suka mengobrol lama dalam ruang chat, sampai salah satu dari kita ketiduran.
Aku suka cemburumu yang kekanak-kanakan, ketika ada lelaki lain menghubungiku,
Aku suka sikapmu, yang super cerewet gara-gara aku lupa meletakkan dimana obatku.
Aku suka, suka sekali.
Teruntuk kamu, Terbaik yang tidak pernah aku miliki.
Senin, 22 Desember 2014
Jumat, 12 Desember 2014
Malam Ini Puisiku Menangis
Malam ini puisiku menangis,
Entah apa penyebabnya...
Yang jelas bukan kau yang menggoreskan lara
Yang jelas bukan dia yang pergi tanpa permisi
Yang jelas bukan kau yang mengundurkan diri ketika kucoba merengkuh berlari
Malam ini puisiku menangis
Tidak seperti malam-malam sebelumnya,
Yang walaupun terluka, dia tampak baik-baik saja
Yang walaupun dihunjam, dia masih bisa tersenyum diam
Yang walaupun di buang, dia masih terlihat tenang
Malam ini puisiku menangis,
Karena kebahagiaan telah lahir dari rahim kegelisahan
Yang tersembunyi dari keharuan dari diri yang dalam
Tak perlu terlalu dirisaukan
Sebab cinta selalu menemukan jalan pulang.