Kepada 2013 yang akan lewat;
Terima kasih, sudah menghadirkan hari-hari yang menakjubkan,
Terima kasih sudah memberiku pelajaran dengan hari-hari
penuh kegelisahan,
Terima kasih untuk resolusi-resolusi yang gagal aku wujudkan,
Terima kasih...
Dengan begitu aku memahami, tak semua hal bisa kita dapati.
Terima kasih Tuhan,
karena semangatku masih berpijar ketika menulis ini,
Dan menyadari bahwa, masih ada harapanku besok untuk
mewujudkan mimpi (kembali).
Selasa, 31 Desember 2013
Sabtu, 07 Desember 2013
Kamis, 05 Desember 2013
Diantara Jarak, Sepi, dan Kamu
Kepada jarak, aku berterima kasih
Sudah menemaniku sehari-hari
Bahkan ketika aku sulit menjadi diri sendiri.
Kepada sendiri aku berhutang budi,
Karenamu aku bisa bersahabat dengan sepi
Dan menyadari hidup tak selalu happy
Teruntuk kamu yang membuatku mengenal jarak dan sepi,
Terima kasih sudah membuatku berada di antaranya,
Dan membuatku memahami,
Tak semua hal berjalan dengan baik-baik saja.
Sudah menemaniku sehari-hari
Bahkan ketika aku sulit menjadi diri sendiri.
Kepada sendiri aku berhutang budi,
Karenamu aku bisa bersahabat dengan sepi
Dan menyadari hidup tak selalu happy
Teruntuk kamu yang membuatku mengenal jarak dan sepi,
Terima kasih sudah membuatku berada di antaranya,
Dan membuatku memahami,
Tak semua hal berjalan dengan baik-baik saja.
Jumat, 29 November 2013
Sabtu, 09 November 2013
Kepada kamu; yang selama 16 bulan ini menemani saya.
Saat kau tengok rona senja yang memecahkan merah,
Masih adakah bayangku disana?
Menari-nari menerbangkan memori, Membuatmu bahagia, lebih dari ketika kau bersama diri sendiri.
Menyimpan tawa, berkolaborasi, hingga bersenyawa nyata.
Melahirkankan anak-anak rindu yang melenyapkan pilu.
Barangkali inilah keindahan yang dibingkiskan Tuhan,
Dalam sebuah skenario yang melibatkan kita,
Semoga pemeran utamanya masih kamu selamanya.
Sebab, senyummu adalah alasan, pijar bintang di langit hatiku terus menyala.
Jumat, 01 November 2013
Kita (tak lagi) sehati
Aku berjalan di ujung pagi,
Sedang kamu, disana mulai terlelap dengan diri sendiri
Aku menunggu hingga lembayung pekat,
Sedang kamu,
disana mulai bergulat dengan keringat
Mengabaikan senja yang tampil memikat
Kita memang begitu sehati
Tapi itu hanya tinggal imajinasi
Atau barangkali kita butuh introspeksi
Untuk sekedar menyelamatkan rasa agar tidak mati
Dan kini...
Seluas jarak yang membentang
Sebagaimana kamu yang kian jauh dari jangkauan.
Sedang kamu, disana mulai terlelap dengan diri sendiri
Aku menunggu hingga lembayung pekat,
Sedang kamu,
disana mulai bergulat dengan keringat
Mengabaikan senja yang tampil memikat
Kita memang begitu sehati
Tapi itu hanya tinggal imajinasi
Atau barangkali kita butuh introspeksi
Untuk sekedar menyelamatkan rasa agar tidak mati
Dan kini...
Seluas jarak yang membentang
Sebagaimana kamu yang kian jauh dari jangkauan.
Selasa, 20 Agustus 2013
Rabu, 12 Juni 2013
Surat Dari Seorang Lelaki Kepada Perempuannya :
Suatu hari ketika aku sudah menjadi seseorang.....
Dear kamu yang masih bertahan di tengah kesibukanku,
masihkah kau sibuk menunggu pesan singkat dariku?
masihkah kau berharap layar ponselmu berdering namaku seperti awal kita mengenal dulu?
mungkin aku tak pernah memberikanmu kejutan, mungkin aku juga tak seperti pangeran yang suka membawakan bunga atau memberikanmu hadiah
dan mungkin aku juga kurang romantis,
maafkan aku
tapi itu semua bukan berarti aku tak pernah memikirkanmu
aku memikirkanmu,
sangat memikirkanmu,
tapi entahlah, kesalah pahaman selalu mengusik hubungan kita
dan karena itu, aku jadi kurang sabar menghadapimu, maafkan aku....
Perempuanku,
kau pikir aku tidak sedih ketika kita sedang bertengkar?
meski aku tak pernah menangis sepertimu, tapi ketahuilah.. akupun terluka melukaimu dengan sikapku...
dan aku juga meminta maaf, karna aku tidak bisa berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku akan berusaha melakukan terbaik yang bisa ku lakukan...
Suatu hari ketika aku sudah menjadi seseorang,
akan kutemui ayahmu, dan kuminta padanya untuk menggantikannya menjagamu di sisa kemampuanku....
karna aku sudah memilihmu....
Dear kamu yang masih bertahan di tengah kesibukanku,
masihkah kau sibuk menunggu pesan singkat dariku?
masihkah kau berharap layar ponselmu berdering namaku seperti awal kita mengenal dulu?
mungkin aku tak pernah memberikanmu kejutan, mungkin aku juga tak seperti pangeran yang suka membawakan bunga atau memberikanmu hadiah
dan mungkin aku juga kurang romantis,
maafkan aku
tapi itu semua bukan berarti aku tak pernah memikirkanmu
aku memikirkanmu,
sangat memikirkanmu,
tapi entahlah, kesalah pahaman selalu mengusik hubungan kita
dan karena itu, aku jadi kurang sabar menghadapimu, maafkan aku....
Perempuanku,
kau pikir aku tidak sedih ketika kita sedang bertengkar?
meski aku tak pernah menangis sepertimu, tapi ketahuilah.. akupun terluka melukaimu dengan sikapku...
dan aku juga meminta maaf, karna aku tidak bisa berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku akan berusaha melakukan terbaik yang bisa ku lakukan...
Suatu hari ketika aku sudah menjadi seseorang,
akan kutemui ayahmu, dan kuminta padanya untuk menggantikannya menjagamu di sisa kemampuanku....
karna aku sudah memilihmu....
Jumat, 10 Mei 2013
Tanpamu...
“Tanpamu, aku masih bisa makan
Masih bisa (berpura-pura) tersenyum, masih bisa
tertawa,
Masih bisa menulis,
Dan masih bisa dengan normal menjalani semuanya,
Hanya saja aku merasa, hatiku tak genap lagi....”
Rabu, 10 April 2013
Aku mencintainya, Tuhan….
Tuhan….
Bolehkah aku berbicara sesuatu?
Tapi, Aku malu mengatakan ini,
Kumohon jangan marah,
atau “cemburu” dengan apa yang akan ku ungkapkan
Tuhan….
Aku sudah menemukannya,
Seseorang yang bisa menopang segala lara,
Seseorang yang mampu mendengarkan resah dan suka,
Seseorang yang membuat aku berarti menjalani segalanya,
Tuhan…
Aku mencintainya…
Lebih dari sedetik yang lalu,
Dan aku harap, mencintainya akan semakin membuat aku
untuk lebih mencintai-Mu
Dengan cinta yang akan membawa kami menuju ke jalan-Mu.
Tuhan…
Kumohon kali ini,
Jatuhkanlah cintaku pada cinta yang menjatuhkan aku pada
kebahagiaan…
Senin, 18 Maret 2013
Refleksi Cinta
Ada seorang gadis, sedang menunggu kabar dari kekasihnya
sedang di ujung yang lain, seorang lelaki sibuk dengan dirinya sendiri
Ada seorang pria, takut kehilangan orang yang di cintainya,
sedang disudut yang lain, wanitanya tak mau lagi peduli
Cinta tak pernah seimbang,
ada garis yang tak bisa menautkan, antara logika dengan perasaan
Cinta tak pernah bodoh,
Kadang sikap dan apapun yang kau tunjukkan untuk memperjuangkannya,
tak pernah cukup membuatnya bertahan.
kadang juga, kamu harus melenyapkan ketakutan,
untuk bisa memahami kehilangan.
Cinta itu pembelajaran,
belajar mencintai, mengerti, mengesampingkan ego sendiri,
bahkan juga...
belajar mengikhlaskan, sesuatu yang (ingin) lepas dari genggaman...
sedang di ujung yang lain, seorang lelaki sibuk dengan dirinya sendiri
Ada seorang pria, takut kehilangan orang yang di cintainya,
sedang disudut yang lain, wanitanya tak mau lagi peduli
Cinta tak pernah seimbang,
ada garis yang tak bisa menautkan, antara logika dengan perasaan
Cinta tak pernah bodoh,
Kadang sikap dan apapun yang kau tunjukkan untuk memperjuangkannya,
tak pernah cukup membuatnya bertahan.
kadang juga, kamu harus melenyapkan ketakutan,
untuk bisa memahami kehilangan.
Cinta itu pembelajaran,
belajar mencintai, mengerti, mengesampingkan ego sendiri,
bahkan juga...
belajar mengikhlaskan, sesuatu yang (ingin) lepas dari genggaman...
Jumat, 08 Maret 2013
Minggu, 06 Januari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
Ketika ":)" adalah ":("
Berbicara tentang kesedihan, saya pikir setiap orang
pernah merasakan perasaan seperti itu,
Hanya saja, mereka mempunyai cara sendiri-sendiri
untuk merayakannya,
Ada yang menangis, termenung, atau bisa juga mengurung
diri dalam kamar.
Namun ada juga sebagian orang yang menikmati kesedihan
itu dengan tersenyum, tertawa, seperti tidak terjadi apa-apa, mungkin sedikit
munafik harus berpura-pura bahagia, tapi begitulah, hidup kadang mengajarkan
kita “bersandiwara” dengan diri kita sendiri karna tidak semua yang kita
rasakan, harus dikatakan pada semua orang...
Kadang, hanya mereka yang benar-benar pedulilah yang
akan bisa membaca keadaanmu, bahkan disaat kamu sedang berkata bahwa kamu
baik-baik saja.
“Aku bisa saja tersenyum, bahkan bisa tertawa sekeras-kerasnya,
tapi hatiku bergerak...”
“Karena luka adalah sebuah pembelajaran, aku
memahaminya dari dua sudut pandang yang berbeda.”
Langganan:
Postingan (Atom)