Jumat, 07 Maret 2014

Ketika Aku Bukanlah “Aku”

Lepas dari drama satu babak kemarin, hidupku kembali
berjalan normal. Menjalani hari-hari seperti biasa, dan 
bahkan aku memutuskan mengambil kesibukan yang 
luar biasa, kesibukan yang kubentuk sendiri untuk 
 mengalihkan beberapa hal yang menyedihkan, 
pada skenario kehidupan.
Berkaca dari rencana sebelumnya, seharusnya aku tidak 
berada di kota ini lagi, seharusnya pula aku memulai 
hidupku dari nol, menjauhkan diri dari beberapa 
orang yang terlalu sibuk mengurus masalah orang lain 
daripada diri mereka sendiri.

Hidup bersama sedikit orang yang mengenalku lalu larut 
didalamnya, sepertinya lebih menenangkan daripada bersama 
mereka yang (sok) peduli, namun sebenernya menjadikan 
hidup orang lain sebagai konsumsi pribadi.

Hari ini, beberapa hari setelah rencana yang kususun gagal, 
aku (masih) menenggelamkan diri pada perayaan sepi, 
tentu rasanya akan berbeda jika seseorang bersedia 
meluangkan waktu untuk sekedar menatap mataku 
dan mendengarkan, lalu berkata, “kau akan bisa melewati semua”.
Ah sudahlah, sepertinya keinginan itu terlalu berlebihan…

Hari ini, semangatku kalah dengan energi negatifku rupanya.
Aku memang bangun, bergerak dan, menjalani planing B 
dari kegagalan kemarin, tapi baru memulai saja, rasanya 
aku lelah, lelah karna membayangkan esok harus berlari, 
lelah karna tidak yakin bisa
melompat lebih tinggi.
Lelah karena aku tidak sekuat itu menjaga diri untuk tidak 
mengeluh disini,
Lelah ketika aku merasa, aku bukanlah aku…