Selasa, 27 Mei 2014

"Tidak akan benar-benar kamu merasa seorang perempuan itu penting, sebelum akhirnya kamu melihatnya jatuh cinta pada sosok yang lain."

Sabtu, 24 Mei 2014

Kita?

Seringkali kita melakukan sesuatu yang membuat orang yang kita cintai sedih, membuatnya marah, membuatnya merasa tidak dianggap ada, namun (sering juga) kita tidak pernah menyadari itu.
Kita selalu memikirkan diri sendiri, menjunjung tinggi keegoisan diri, dan merasa hanya kita yang mempunyai hati.

Kita terlalu larut dengan bagaimana cara menyenangkan diri sendiri, sampai kita lupa, bahwa ada orang yang menunggu untuk merayakan kebahagiaan dengan kita juga.

Kita sibuk dengan diri kita, kita terlalu polos mengira semua orang akan (selalu) nyaman dengan kita.
Kita mulai berhenti mendengar, berhenti memahami, berhenti peka dengan situasi.
Sampai akhirnya disuatu pagi, kita melihatnya melangkah pergi, dan menjelma menjadi kenangan yang tidak akan pernah kembali. Bukan karena berhenti mencintai, tapi ada yang lebih penting diselamatkan daripada sekedar jatuh hati.

Minggu, 18 Mei 2014

"Tidak keren seorang laki-laki yang suka membuat perempuannya cemburu, karena perasaan tidak untuk diadu."

Rabu, 23 April 2014

Untuk Kamu:

Menjauhlah jika ingin menjauh,
Menghilanglah jika mau menghilang,
Dan temukanlah seseorang yang kaupikir lebih membuat nyaman,
Kemudian.. segeralah kembali sesaat setelah kau menyadari,
Bahwa hatikulah jalan pulang yang tak terganti...

Jumat, 07 Maret 2014

Ketika Aku Bukanlah “Aku”

Lepas dari drama satu babak kemarin, hidupku kembali
berjalan normal. Menjalani hari-hari seperti biasa, dan 
bahkan aku memutuskan mengambil kesibukan yang 
luar biasa, kesibukan yang kubentuk sendiri untuk 
 mengalihkan beberapa hal yang menyedihkan, 
pada skenario kehidupan.
Berkaca dari rencana sebelumnya, seharusnya aku tidak 
berada di kota ini lagi, seharusnya pula aku memulai 
hidupku dari nol, menjauhkan diri dari beberapa 
orang yang terlalu sibuk mengurus masalah orang lain 
daripada diri mereka sendiri.

Hidup bersama sedikit orang yang mengenalku lalu larut 
didalamnya, sepertinya lebih menenangkan daripada bersama 
mereka yang (sok) peduli, namun sebenernya menjadikan 
hidup orang lain sebagai konsumsi pribadi.

Hari ini, beberapa hari setelah rencana yang kususun gagal, 
aku (masih) menenggelamkan diri pada perayaan sepi, 
tentu rasanya akan berbeda jika seseorang bersedia 
meluangkan waktu untuk sekedar menatap mataku 
dan mendengarkan, lalu berkata, “kau akan bisa melewati semua”.
Ah sudahlah, sepertinya keinginan itu terlalu berlebihan…

Hari ini, semangatku kalah dengan energi negatifku rupanya.
Aku memang bangun, bergerak dan, menjalani planing B 
dari kegagalan kemarin, tapi baru memulai saja, rasanya 
aku lelah, lelah karna membayangkan esok harus berlari, 
lelah karna tidak yakin bisa
melompat lebih tinggi.
Lelah karena aku tidak sekuat itu menjaga diri untuk tidak 
mengeluh disini,
Lelah ketika aku merasa, aku bukanlah aku…